oleh : Senoaji Wijanarko
Kebiasaan merokok bagi sebagian masyarakat sangat sulit ditinggalkan, utamanya yang sudah kecanduan, tanpa rokok serasa hampa. Sebagai salah satu kebiasaan (buruk), asap rokok dewasa ini begitu memasyarakat tidak mengenal umur dan lokasi. Mulai dari fasilitas umum non kesehatan hingga fasilitas kesehatan semisal klinik, puskesmas, dan rumah sakit tak terkecuali Rumah Sakit Umum Nunukan.
Begitu buruknya kebiasaan merokok ini hingga merambah ke beberapa oknum Rumah Sakit yang notabene seharusnya mengerti mengenai efek negatif merokok ini dan seharusnya pula menjadi contoh bagi masyarakat agar tidak merokok di lingkungan Rumah Sakit. Tulisan ini tidak akan membahas mengenai betapa banyak penyakit yang diakibatkan merokok dalam jangka pendek hingga jangka panjang. Namun lebih ke dampak kesehatan dan sosial bagi para perokok pasif.
Perokok pasif adalah orang yang tidak merokok, namun kebetulan "bernasib buruk" berada di lingkungan perokok. Perokok pasif ini bisa siapa saja, mulai bayi baru lahir yang kebetulan bapak/ ibunya perokok, hingga lansia (lanjut usia). Banyak alasan seseorang tidak merokok, antara lain: alergi asap rokok dan tidak biasa merokok. Seseorang yang tidak merokok dengan alasan alergi umumnya menghindari asap rokok maupun kebiasaan buruk ini, karena efeknya pada saluran pernafasan hingga paru-paru begitu spontan. Tak kurang mulai dari batuk, bersin-bersin, hingga pada kasus yang lebih parah radang paru-paru.
Mengapa perokok pasif sangat mudah terganggu kesehatannya jika dibandingkan perokok aktif?
Pertama, perokok aktif pada umumnya "lebih siap", mempersiapkan dirinya untuk membatasi sejauh mana asap rokok ini terhirup dalam saluran pernafasannya. Berbeda dengan perokok pasif, golongan ini sama sekali tidak siap menerima asap rokok, ditambah lagi jika alergi justru memperparah kondisinya. Masalah ini makin diperburuk dengan ketidakberanian lingkungan melarang perokok aktif menghentikan aksi merokok di tempat umum tanpa memperdulikan lingkungan. Akhirnya bisa ditebak perokok pasif ini dipastikan akan sakit.
Kedua, masih terkait dengan point pertama, aksi merokok yang "dibiarkan" ini menjadi "role model" yang seolah bisa ditiru masyarakat pelajar dan dewasa usia produktif ditambah lagi "sugesti -salah" iklan rokok yang meracuni melalui semua media massa di Indonesia, semakin memperburuk keadaan dengan munculnya "kader" perokok-perokok baru di lingkungan kita. Di beberapa tempat, serasa bukan hal tabu sang anak di usia sekolah merokok bahkan minum alkohol bersama ayah atau pamannya. Tentu hal ini pun bukan tanpa sebab, jika ditelusuri lebih jauh permasalahan ekonomi menghimpit memaksa kondisi yang menyebabkan tingkat pendidikan rendah sehingga apa yang diajarkan di dunia pendidikan tidak sampai sasaran.
Kamis, 17 Maret 2011
Jumat, 25 Februari 2011
kunjungan Tim BLUD RS Nunukan ke RS R. Syamsudin, SH. di Sukabumi
| sebagian tim BLU RS Nunukan bersama direktur 2 rumah sakit |
Dalam membangun rumah sakit Nunukan pihak manajemen RS telah menandatangani kontrak kerjasama dengan RSU R. Syamsudin, SH dalam hal kerjasama berbagai bidang terkait pelayanan rumah sakit terhadap konsumen. Pada kunjungan kerja direktur RS Nunukan 24 februari , dr. H. Rustam Syamsuddin didampingi dr. Seno Aji Wijanarko (ka.Instalasi Rawat jalan), Bpk. Ambo Asse, SE. (kasubag keuangan), Bpk. Budi (kasubag umum dan kepegawaian), dan Bpk. Bambang Apryanto, S.Kep, Ns (kepala Ruangan Operasi) mengambil penekanan pada solusi di alur pelayanan, pemasaran, sistem informasi Rumah Sakit (SIRS), pengadaan barang dan Jasa, pembinaan Sumber Daya Manusia, model praktek keperawatan professional (MPKP), komite keperawatan, format Asuhan Keperawatan (Askep), pengelolaan sistem keuangan Rumah sakit R. Syamsudin, SH. Kerjasama ini sangat penting dampaknya bagi penyempurnaan kinerja RS. Nunukan dalam jangka panjang.
Kunjungan kerja ini diterima langsung oleh dr. H. Suherman, MKM. didampingi staf RS R. Syamsuddin, SH antara lain bpk. Y. Rusyandi, SE, MM. dan dr. Asep. Mengantar langsung meninjau seluruh pelosok rumah sakit sebelum pendalaman materi di masing-masing bidang.
Kerjasama yang dimulai sejak 2008 lalu memberikan banyak kemajuan dalam hal operasional rumah sakit berupa pondasi regulasi yang kuat dalam bentuk peraturan Bupati mengenai tata kelola keuangan Badan Layanan Umum Daerah, serta memberikan landasan kesadaran yang baik bagi level fungsional untuk semakin memperbaiki kinerjanya.
Kunjungan kerja ini juga dimaksudkan untuk memastikan perbaikan yang sedang dilakukan berjalan baik, mengevaluasi kelemahan yang ada untuk dikonsultasikan sehingga dapat dicarikan jalan keluarnya. Utamanya bagaimana cara memperbaiki paradigma pelayanan yang harus kami berikan menyongsong status BLUD yang akan diimplementasikan RSU Nunukan. (aji)
| dalam ruang presidental RS R. Syamsudin Sukabumi |
| bersama karyawan gizi Outsourcing |
| di depan lobby Seruni; tampak keluarga pasen sedang berbincang santai |
| terapi okupasional yang dilakukan dokter terhadap pasien psikiatri |
| pengamanan RS Syamsudin yang anggun |
| tim BLUD RS Nunukan di depan ruang ICU |
| bersama di ruang Direktur RS R. Syamsuddin |
![]() |
| beberapa bagian rumah sakit yang tua namun masih dapat digunakan dipertahankan sebagai "monumen" masa lampau |
|
Selasa, 01 Februari 2011
Wawasan Kesehatan Pribadi (sebuah ajakan berpikir bersama)*
oleh: Senoaji Wijanarko, dr
Bismillahirohmanirrohim. Berkecimpung di dunia pemasaran Rumah sakit Nunukan mendorong saya mencari beberapa sumber bacaan_ yang termudah adalah dari internet (situs PERSI dan situs-situs lainnya). Dari beberapa bacaan itu kita utamanya di Indonesia dalam mengiklankan tidak boleh berlebihan dan terlalu dibesarbesarkan layaknya produk layanan lain. Alasannya sama, rumah sakit di samping berfungsi ekonomi utamanya adalah berfungsi sosial kemanusiaan utamanya, yang belakangan ini mulai bergeser ke arah fungsi ekonomi terkait (salah satunya) keterbatasan pemerintah dalam mendanai rumah sakit yang diimplementasikan dalam bentuk Rumah sakit sebagai Badan Layanan Umum (BLU). RS dengan status ini diharapkan ke depannya dapat mandiri, bergerak lebih bebas dalam memberikan pelayanan publik, bisa memenuhi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada pemerintah pusat/ daerah. Dalam memperoleh “peningkatan pendapatan” RS yang dasar produknya Pelayanan tentu harus terkonsentrasi pada peningkatan produk Pelayanan tersebut.
Pandangan mengenai (kewajiban) peningkatan pelayanan dalam rangka perubahan status RSUD Nunukan telah lama bergulir sejak pertengahan 2008 (awal digunakannya bangunan baru RSUD Nunukan di daerah yang lebih terpencil). Berbagai protes atas beberapa kekurangan dalam kualitas pelayanan yang didasari keterbatasan kami seperti kurang tenaga, kurang modalitas penunjang, gaji perawat honor kecil (tercatat tahun 2008 hanya Rp600ribuan!), kondisi jalanan pada antara 2008-maret2010 rusak parah (sehingga pasen yang dibawa malah tambah sakitJ), etos kerja buruk, hingga kompetensi yang bertahun-tahun tidak diUpdate karena seringnya Pemda memotong dana tahunan. Saat masyarakat mulai menuntut perbaikan pelayanan justru posisi kami “dipersulit” keadaan. Hal ini telah kami kaji dan perbaiki berujung tingkat kepuasan masyarakat meningkat dengan catatan yang harus dibenahi ke depan.
Pandangan mengenai “kewajiban” peningkatan layanan yang menjadi tuntutan masyarakat ini semakin lama menjadi agak negative (setidaknya menurut saya). Sehingga dalam implementasinya seolah beberapa “oknum” masyarakat merasa bahwa Rumah sakit harus memberikan pelayanan sehebat dan sehalus pegawai bank, rumah makan, bahkan pelayan hotel dan bertanggungjawab penuh atas keselamatan pasien tidak perduli seberapa kritis/ buruknya kondisi pasien saat dibawa. Ini Lucu… faktanya dalam beberapa kasus tampak seperti ini:
- pasien luka lecet, karena keluarga pejabat harus didahulukan meskipun tampak jelas ada pasien meregang nyawa yang menyita penanganan dan perhatian lebih dahulu meskipun datang lebih lambat dari keluarga pejabat tersebut. Dalam laporan muncul pasen “tidak diperhatikan” , petugas medisnya acuh tak acuh.
- Pasien pengguna Surat keterangan tidak mampu (SKTM) minta dilayani di kelas VIP dan lolos karena sebuah telpon dari seorang pejabat.
- Minta di-visite setiap shift meski tidak ada keluhan.
- Pasien yang masuk kelas VIP ber-cost tinggi lalu menjelang pulang menyerahkan SKTM atau minta dibebaskan pembiayaannya berdasar sebuah “telepon sakti
- Dan lain-lain
Pada intinya, kami wajib meningkatkan pelayanan, namun peningkatan harus sesuai proporsi berbasis empati dan tidak berlebihan. Kesehatan adalah tanggungjawab bersama bukan hanya tanggungjawab kami, namun tanggungjawab pribadi, keluarga, dan lingkungan pasien. Jika anda hidup cukup sehat bersanitasi dan hygiene-ria yang baik tentu mengurangi kunjungan ke rumah sakit untuk kasus yang berakhir kematian. Dari penutup ini tentu anda mengerti yang kami maksudkan bahwa anda sakit bukanlah peran rumah sakit, dan kesembuhan anda sendiri bahkan tidak ditanggung rumahsakit 100%. Harus ada kerjasama antara pihak pasien dalam hal ini pengertiannya untuk mengijinkan kami bekerja professional (sesuai porsi kami); pihak rumah sakit dalam memberikan pelayanan optimal sesuai kompetensi, informed consent, dan modalitas yang ada; dan (last but not least) Tuhan Yang Maha Esa sebagai penentu kebijakan kesembuhan pasien.Pada dasarnya tidak ada niatan kami untuk menterlantarkan apalagi mencelakakan pasien, apakah itu pasien anak? Sebagian besar kami punya anak; apakah pasien orang tua? Kami tak akan hadir dan besar di dunia ini tanpa orangtua; pasien terlantar? Siapa dari kami yang sudi diterlantarkan? Semua jenis pasien mulai dari anak hingga terlantar kami miliki dasar empatinya_kami bisa rasakan penderitaannya.
Semua kritik sangat bermanfaat bagi kami RS Nunukan khususnya dan bagi semua Rumah sakit pada umumnya, silahkan sampaikan keluhan anda lewat jalur Humas/ pemasaran rumah sakit demi Indonesia Lebih Sehat tahun-tahun mendatang.
Kritik dan saran sangat diharapkan
(untuk saya, keluarga, semua teman baik dan pasen kami, serta pemerhati solusi (bukan masalah) kesehatan; terima kasih kanda dr. Hatta)
*)adalah cara pandang seseorang mengenai kesehatan diri, keluarga dan lingkungannya
penulis adalah kepala instalasi rawat jalan RSU Nunukan, ketua pokja pemasaran RSU Nunukan, dan pemerhati manajemen kesehatan
Langganan:
Postingan (Atom)




